Selasa, 31 Maret 2026

Apakah Enggak Apa-Apa kalau Enggak Jadi Apa-Apa?


Selasa, 31 Maret 2026, aku menghadiri acara Halal bihalal dan seminar parenting yang diselenggarakan oleh IGRA Kota Cimahi di Blessing Room d'Botanica Bandung.

Singkatnya, selesai seminar, aku mampir ke XXI di lantai bawah lokasi seminar. Ini pengalaman pertama aku nonton bioskop sendiri. Kebetulan ada satu film yang memang sudah masuk pada watching list-ku sejak trailer-nya muncul. Kupikir, "Mumpung sedang di sini, jadi sekalian saja."

Kita bicara tentang filmnya.
Film berjudul "Tunggu Aku Sukses Nanti" karya Naya Anindita dengan tokoh utama yang diperankan oleh komika Ardit Erwandha ini sukses membuatku sibuk mengusap air mata sejak pertengahan tayang sampai-sampai harus pulang dengan mata sedikit sembab.

Menyuguhkan kisah soal permasalahan keluarga, tekanan dalam keluarga besar, kesulitan-kesulitan sebagai sandwich generation, dibanding-bandingkan dengan sepupu, sulitnya mencari pekerjaan, upaya pembuktian diri dan pencarian validasi, sampai konflik antar rekan kerja, asmara, dan persahabatan. 

Sinopsis lengkapnya silakan cari di google, ya :D karena tulisan ini bukan mau berfokus pada ulasan film, tapi lebih ke yapping soal terlalu relate-nya dengan kehidupan (pribadi).

1. Ternyata se-tidak-mudah-ini hidup.
Orang-orang sedang berjuang mati-matian untuk bertahan hidup/mencari pembuktian/merangkak naik ke derajat yang lebih tinggi supaya tidak terus terinjak.

2. Sesulit itu hidup bagi sebagian orang yang memiliki garis start berbeda.
Mau maju, selalu saja terkendala. Sudah mati-matian berlari, ternyata hanya jalan di tempat. Ditarik ke belakang pun entah dari mana salahnya. Bukankah kehidupan seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah, tapi kenapa sepertinya roda yang ini terus saja meledug? Apakah peleknya memang tak layak? Apakah terlalu banyak ranjau yang dilintasinya? Atau karena apa?

3. Ada pertanyaan besar yang sampai saat ini belum berani untuk secara gamblang disampaikan kepada orang tua: "Pak, Bu, apakah enggak apa-apa kalau anakmu ini ternyata enggak bisa jadi apa-apa? Kalau anakmu ini masih begini-begini saja, apakah kalian masih akan terus menerimanya?"

Yang nomor tiga benar-benar membuat bercucuran air mata. Sebab, jika bukan keluarga (orang tua) siapa lagi yang mau menerima seluruh kekurangan dan kegagalan kita? Kalau mereka tidak mau lagi menerima, wujud pemurah-kasih mana lagi di dunia yang bersedia menerima?—


Cimahi, 31 Maret 2026
Wulandari~

Senin, 02 Maret 2026

Pertimbangan dan Keegoisan

Aku membaca sebuah buku berjudul "Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?". Sebuah frasa yang terkesan menyeramkan, tapi sebenarnya berisi kisah yang begitu menyentuh.

Pada suatu sub sub-bab bertajuk Pertimbangan dan Keegoisan, aku menemukan kisah tentang seseorang yang tengah berada dalam transportasi umum yang ramai. Ia bernarasi sebagaimana yang aku kutip berikut,

"Seperti biasa, aku berhati-hati supaya tidak menyenggol orang lain. Aku selalu peduli dengan hal-hal seperti itu, sampai berpikir, apakah semua orang berhati-hati seperti ini? Ternyata tidak. Orang-orang berusaha mencari posisi nyaman untuk berdiri, ... . Mereka semua melakukan itu demi kebutuhan masing-masing." —Hlm. 19

Dalam kehidupan sosial, kita diajarkan tentang hak dan tanggung jawab, serta tentang kebebasan dan batasan. Seringkali kita mendapati berbagai perilaku manusia. Sebagian orang berhati-hati agar tidak melanggar hak orang lain. Sebagian orang berusaha untuk selalu menunaikan tanggung jawab. Sebagian orang merasa bebas melakukan keinginannya. Sebagian lainnya menjaga untuk tidak melampaui batasan.

Kita meyakini bahwa keadaan sosial akan menjadi tenteram dan harmonis jika setiap orang memegang prinsip soal hak dan tanggung jawab, serta kebebasan dan batasan sesuai dengan porsinya, tidak berlebihan. Nyatanya tidak jarang kita mendapati kebanyakan orang hanya mengingat-ingat tentang haknya, merasa bebas menuntut bahkan merebut sampai menyenggol sana-sini, tapi seringkali menutup mata dan abai terhadap tanggung jawabnya, juga lupa bahwa kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Bukankah kita semua tahu bahwa manusia diciptakan dengan akal dan nafsu?
Akal menuntun dalam membuat pertimbangan, dan nafsu mendorong pada keegoisan.
Bukankah perlu untuk mempertimbangkan berbagai hal agar tidak menjadi zalim pada orang lain?
Bukankah perlu untuk menekan nafsu agar tidak timbul keegoisan yang meluap-luap?

Entahlah, mungkin aku hanya mengira-ngira saja. Ah, sulit ternyata belajar tentang kebijaksanaan.
Tapi bukankah Allah sudah banyak menegur orang-orang yang melampaui batas?


—Wulandari, 2 Maret 2026