Selasa, 11 Agustus 2026

JANA


Jana, 10w, 10/08/2026, Threatened abortion.

Mungkin belum waktunya Jana ditanyai tentang "alastu birabbikum" yg dijawab dengan "balaa syahidnaa" untuk kemudian menjalani kehidupan dunia sehingga Jana lebih milih menunggu ayah dan ibu di surga.
Terima kasih sudah mau mengisi rahim ibu meskipun hanya selama tujuh puluh lima hari (berdasarkan HPHT).

Minggu, 28 Juni 2026. Dengan perasaan campur aduk, ibu sangat bersyukur hasil tes menunjukkan garis dua.

Jumat, 3 Juli 2026. Pertama kali ibu periksa ke bidan. Senang sekali saat Bu Bidan menyatakan ibu benar-benar hamil dan mengatakan, "ini udah kerasa".

18—25 Juli 2026. Ibu merasa kurang sehat, orang bilang mungkin bawaan hamil. Ibu ikhlas kalau memang harus kesakitan asalkan Jana sehat dan tumbuh dengan baik. Tapi mungkin harusnya ibu lebih sabar dan lebih ridho saat itu.

Jumat, 7 Agustus 2026. USG pertama. Harusnya ini pertama kali ibu liat Jana. Tapi rasanya seperti tersambar petir. Seketika langit ibu seakan runtuh dan jantung ibu berdebar kencang saat layar monitor USG tidak menunjukkan keberadaan Jana. Ibu merasa berada di awang-awang saat dokter mengatakan ada kemungkinan Jana tidak berkembang atau usia Jana masih sekitar 6—7 minggu karena hanya nampak kantung janin saja dan Jana terlihat sangat samar abu-abu. Dokter dan Bu Bidan menyarankan untuk USG lagi dua minggu ke depan untuk memastikan semoga saja nanti Jana sudah tumbuh. Maaf karena malam harinya ibu tidak bisa menahan tangis.

Sabtu, 8 Agustus 2026. Ibu ingin memastikan lagi dengan mengunjungi Klinik Pratama untuk minta rujukan periksa ke RS. Setelah kembali melalui pemeriksaan USG biasa dan transvaginal di RS, ternyata dokter memang tidak menemukan detak jantung Jana. Dokter menyarankan untuk merelakan Jana lewat kuret pada Hari Senin, tapi ayah masih punya harapan dan meminta waktu satu minggu lagi untuk pemeriksaan ulang. 

Minggu, 9 Agustus 2026. Perasaan ibu tidak tenang karena flek yang terus keluar dan nyeri yang semakin sering timbul. Qodarullah, dengan izin Allah, saat tengah malam Jana mungkin memilih keluar sendiri. Jana sudah keluar saat ibu buang air kecil. Ibu merelakan perawat mengeluarkan sisa-sisa Jana di IGD.

Senin, 10 Agustus 2026. Ibu menjalani kuretase. Tidak membutuhkan waktu lama. Jam dua siang ibu sudah boleh pulang. Tapi rasanya seperti mimpi. Ibu berharap ibu masih berada dalam pengaruh bius anestesi. Ibu rela Jana pergi, tapi tidak apa-apa kan kalau ibu merasa berduka?

Selasa, 11 Agustus 2026. Ibu masih merasa seperti mimpi. Ibu mengunjungi tempat Jana. Orang-orang di sekitar ibu mendoakan dan meminta ibu untuk kuat dan sabar. Ibu ingin kuat, tapi air mata ibu masih terus saja mengalir sampai ibu menulis ini. Maaf kalau ibu bingung ibu harus apa dan mau apa setelah ini. Maaf kalau sampai saat ini ibu masih berusaha mencari salahnya dimana. Maaf kalau saat ini ibu masih menjadi ibu yg lemah.
Jana, kalau di lain waktu ibu sudah menjadi lebih kuat dan menjadi lebih baik lagi, Jana mau kan tumbuh dan berkembang lagi di rahim ibu? Kali nanti Jana tumbuh dan berkembangnya dengan baik ya di rahim ibu. Semoga Allah izinkan. Aamiin allahuma aamiin...

Rabbi hablii minladuka dzurriyyatan thayyibah. Innaka samii'uddu'a.

Alhamdulillah 'ala kulli halin wa astaghfirullaha min kulli dzanbin.

Selasa, 31 Maret 2026

Apakah Enggak Apa-Apa kalau Enggak Jadi Apa-Apa?


Selasa, 31 Maret 2026, aku menghadiri acara Halal bihalal dan seminar parenting yang diselenggarakan oleh IGRA Kota Cimahi di Blessing Room d'Botanica Bandung.

Singkatnya, selesai seminar, aku mampir ke XXI di lantai bawah lokasi seminar. Ini pengalaman pertama aku nonton bioskop sendiri. Kebetulan ada satu film yang memang sudah masuk pada watching list-ku sejak trailer-nya muncul. Kupikir, "Mumpung sedang di sini, jadi sekalian saja."

Kita bicara tentang filmnya.
Film berjudul "Tunggu Aku Sukses Nanti" karya Naya Anindita dengan tokoh utama yang diperankan oleh komika Ardit Erwandha ini sukses membuatku sibuk mengusap air mata sejak pertengahan tayang sampai-sampai harus pulang dengan mata sedikit sembab.

Menyuguhkan kisah soal permasalahan keluarga, tekanan dalam keluarga besar, kesulitan-kesulitan sebagai sandwich generation, dibanding-bandingkan dengan sepupu, sulitnya mencari pekerjaan, upaya pembuktian diri dan pencarian validasi, sampai konflik antar rekan kerja, asmara, dan persahabatan. 

Sinopsis lengkapnya silakan cari di google, ya :D karena tulisan ini bukan mau berfokus pada ulasan film, tapi lebih ke yapping soal terlalu relate-nya dengan kehidupan (pribadi).

1. Ternyata se-tidak-mudah-ini hidup.
Orang-orang sedang berjuang mati-matian untuk bertahan hidup/mencari pembuktian/merangkak naik ke derajat yang lebih tinggi supaya tidak terus terinjak.

2. Sesulit itu hidup bagi sebagian orang yang memiliki garis start berbeda.
Mau maju, selalu saja terkendala. Sudah mati-matian berlari, ternyata hanya jalan di tempat. Ditarik ke belakang pun entah dari mana salahnya. Bukankah kehidupan seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah, tapi kenapa sepertinya roda yang ini terus saja meledug? Apakah peleknya memang tak layak? Apakah terlalu banyak ranjau yang dilintasinya? Atau karena apa?

3. Ada pertanyaan besar yang sampai saat ini belum berani untuk secara gamblang disampaikan kepada orang tua: "Pak, Bu, apakah enggak apa-apa kalau anakmu ini ternyata enggak bisa jadi apa-apa? Kalau anakmu ini masih begini-begini saja, apakah kalian masih akan terus menerimanya?"

Yang nomor tiga benar-benar membuat bercucuran air mata. Sebab, jika bukan keluarga (orang tua) siapa lagi yang mau menerima seluruh kekurangan dan kegagalan kita? Kalau mereka tidak mau lagi menerima, wujud pemurah-kasih mana lagi di dunia yang bersedia menerima?—


Cimahi, 31 Maret 2026
Wulandari~

Senin, 02 Maret 2026

Pertimbangan dan Keegoisan

Aku membaca sebuah buku berjudul "Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?". Sebuah frasa yang terkesan menyeramkan, tapi sebenarnya berisi kisah yang begitu menyentuh.

Pada suatu sub sub-bab bertajuk Pertimbangan dan Keegoisan, aku menemukan kisah tentang seseorang yang tengah berada dalam transportasi umum yang ramai. Ia bernarasi sebagaimana yang aku kutip berikut,

"Seperti biasa, aku berhati-hati supaya tidak menyenggol orang lain. Aku selalu peduli dengan hal-hal seperti itu, sampai berpikir, apakah semua orang berhati-hati seperti ini? Ternyata tidak. Orang-orang berusaha mencari posisi nyaman untuk berdiri, ... . Mereka semua melakukan itu demi kebutuhan masing-masing." —Hlm. 19

Dalam kehidupan sosial, kita diajarkan tentang hak dan tanggung jawab, serta tentang kebebasan dan batasan. Seringkali kita mendapati berbagai perilaku manusia. Sebagian orang berhati-hati agar tidak melanggar hak orang lain. Sebagian orang berusaha untuk selalu menunaikan tanggung jawab. Sebagian orang merasa bebas melakukan keinginannya. Sebagian lainnya menjaga untuk tidak melampaui batasan.

Kita meyakini bahwa keadaan sosial akan menjadi tenteram dan harmonis jika setiap orang memegang prinsip soal hak dan tanggung jawab, serta kebebasan dan batasan sesuai dengan porsinya, tidak berlebihan. Nyatanya tidak jarang kita mendapati kebanyakan orang hanya mengingat-ingat tentang haknya, merasa bebas menuntut bahkan merebut sampai menyenggol sana-sini, tapi seringkali menutup mata dan abai terhadap tanggung jawabnya, juga lupa bahwa kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Bukankah kita semua tahu bahwa manusia diciptakan dengan akal dan nafsu?
Akal menuntun dalam membuat pertimbangan, dan nafsu mendorong pada keegoisan.
Bukankah perlu untuk mempertimbangkan berbagai hal agar tidak menjadi zalim pada orang lain?
Bukankah perlu untuk menekan nafsu agar tidak timbul keegoisan yang meluap-luap?

Entahlah, mungkin aku hanya mengira-ngira saja. Ah, sulit ternyata belajar tentang kebijaksanaan.
Tapi bukankah Allah sudah banyak menegur orang-orang yang melampaui batas?


—Wulandari, 2 Maret 2026

Kamis, 29 Januari 2026

28 (Januari) yang ke-28

Alhamdulillah.
Aku bersyukur Allah beri kesempatan untuk hidup sampai selama ini. Aku berpikir bahwa sebuah rahmat yang besar aku bisa menjalani kehidupan sampai saat ini, sambil di sisi lain aku terus berpikir ini akan berjalan sampai berapa lama lagi?

Sejauh ini kurasa aku belum juga bersinar.
Tapi aku tetap berterima kasih karena tidak padam. Bukankah tidak apa-apa temaram asalkan tetap menyala? Tidak apa-apa, kan, kalau aku tidak apa-apa?

Aku tidak pernah meminta berumur panjang.
Aku tahu bahwa ketenangan tidak diciptakan di dunia. Aku tahu bahwa manusia bisa beristirahat panjang di akhirat kelak —lebih tepatnya di surga. Aku tahu kehidupan dunia hanya sebentar.

Jika kehidupan dunia itu singkat, lantas penantian mana yang kusebut lama dan menjemukan?
Meski begitu aku seringkali berpikir untuk tidak mau berlama-lama. Buat apa berlama-lama jika ibadahku hanya segini-segini saja. Buat apa berlama-lama jika amalku hanya segini-segini saja. Buat apa berlama-lama jika kebermanfaatanku hanya segini-segini saja. 

Dalam yang tidak lama ini, semoga aku tidak semakin redup.
Aku berharap Allah selalu rahmati aku untuk tetap menyala. Sebab aku tahu Dia Mahatahu kapan aku bisa bersinar dan kapan aku akan padam. Aku mengharap secercah cahaya dari selaksa cahaya-Nya, agar yang temaram ini bisa membawa manfaat.

Aku berharap Allah meridhoiku, serta tidak melepaskanku.
Aku tahu sangat tidak pantas aku mengeluh, tapi kadang ini terasa melelahkan.

Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadz-dzaalimiin...

—Wulandari, 28 Januari 2026

Rabu, 14 Januari 2026

Waktu Berlalu

Dan waktu...

Waktu selalu berlalu
Aku mengikutinya
Mulanya biasa saja

Waktu terus berlalu
Aku terus mengikutinya
Lalu aku terlena

Waktu masih berlalu
Aku masih mengikutinya
Kemudian aku tersesat

Waktu tak berhenti berlalu
Aku tak mau lagi mengikutinya
Selanjutnya aku tergilas

Waktu akan terus berlalu
Aku tak tahu akan bagaimana
Akhirnya aku lupa

Dan aku...

Kini mulai kehilangan aku.


—Wulandari, 15 April 2018