Jana, 10w, 10/08/2026, Threatened abortion.
Mungkin belum waktunya Jana ditanyai tentang "alastu birabbikum" yg dijawab dengan "balaa syahidnaa" untuk kemudian menjalani kehidupan dunia sehingga Jana lebih milih menunggu ayah dan ibu di surga.
Terima kasih sudah mau mengisi rahim ibu meskipun hanya selama tujuh puluh lima hari (berdasarkan HPHT).
Minggu, 28 Juni 2026. Dengan perasaan campur aduk, ibu sangat bersyukur hasil tes menunjukkan garis dua.
Jumat, 3 Juli 2026. Pertama kali ibu periksa ke bidan. Senang sekali saat Bu Bidan menyatakan ibu benar-benar hamil dan mengatakan, "ini udah kerasa".
18—25 Juli 2026. Ibu merasa kurang sehat, orang bilang mungkin bawaan hamil. Ibu ikhlas kalau memang harus kesakitan asalkan Jana sehat dan tumbuh dengan baik. Tapi mungkin harusnya ibu lebih sabar dan lebih ridho saat itu.
Jumat, 7 Agustus 2026. USG pertama. Harusnya ini pertama kali ibu liat Jana. Tapi rasanya seperti tersambar petir. Seketika langit ibu seakan runtuh dan jantung ibu berdebar kencang saat layar monitor USG tidak menunjukkan keberadaan Jana. Ibu merasa berada di awang-awang saat dokter mengatakan ada kemungkinan Jana tidak berkembang atau usia Jana masih sekitar 6—7 minggu karena hanya nampak kantung janin saja dan Jana terlihat sangat samar abu-abu. Dokter dan Bu Bidan menyarankan untuk USG lagi dua minggu ke depan untuk memastikan semoga saja nanti Jana sudah tumbuh. Maaf karena malam harinya ibu tidak bisa menahan tangis.
Sabtu, 8 Agustus 2026. Ibu ingin memastikan lagi dengan mengunjungi Klinik Pratama untuk minta rujukan periksa ke RS. Setelah kembali melalui pemeriksaan USG biasa dan transvaginal di RS, ternyata dokter memang tidak menemukan detak jantung Jana. Dokter menyarankan untuk merelakan Jana lewat kuret pada Hari Senin, tapi ayah masih punya harapan dan meminta waktu satu minggu lagi untuk pemeriksaan ulang.
Minggu, 9 Agustus 2026. Perasaan ibu tidak tenang karena flek yang terus keluar dan nyeri yang semakin sering timbul. Qodarullah, dengan izin Allah, saat tengah malam Jana mungkin memilih keluar sendiri. Jana sudah keluar saat ibu buang air kecil. Ibu merelakan perawat mengeluarkan sisa-sisa Jana di IGD.
Senin, 10 Agustus 2026. Ibu menjalani kuretase. Tidak membutuhkan waktu lama. Jam dua siang ibu sudah boleh pulang. Tapi rasanya seperti mimpi. Ibu berharap ibu masih berada dalam pengaruh bius anestesi. Ibu rela Jana pergi, tapi tidak apa-apa kan kalau ibu merasa berduka?
Selasa, 11 Agustus 2026. Ibu masih merasa seperti mimpi. Ibu mengunjungi tempat Jana. Orang-orang di sekitar ibu mendoakan dan meminta ibu untuk kuat dan sabar. Ibu ingin kuat, tapi air mata ibu masih terus saja mengalir sampai ibu menulis ini. Maaf kalau ibu bingung ibu harus apa dan mau apa setelah ini. Maaf kalau sampai saat ini ibu masih berusaha mencari salahnya dimana. Maaf kalau saat ini ibu masih menjadi ibu yg lemah.
Jana, kalau di lain waktu ibu sudah menjadi lebih kuat dan menjadi lebih baik lagi, Jana mau kan tumbuh dan berkembang lagi di rahim ibu? Kali nanti Jana tumbuh dan berkembangnya dengan baik ya di rahim ibu. Semoga Allah izinkan. Aamiin allahuma aamiin...
Rabbi hablii minladuka dzurriyyatan thayyibah. Innaka samii'uddu'a.
Alhamdulillah 'ala kulli halin wa astaghfirullaha min kulli dzanbin.

0 komentar:
Posting Komentar