Minggu, 16 November 2025

Overthinking Berkedok Kontemplasi: Apakah Pengetahuan Berkorelasi dengan Sikap Moral Seseorang?

Aku baru menonton sebuah acara di kanal Youtube Tempodotco dalam segmen Omon-Omon bertajuk "Gelar Pahlawan daripada Soeharto".

Di samping pembahasan tentang pro-kontra soal Soeharto yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional, narasumber bernama Robertus Robet memaparkan cerita tentang seorang perempuan buta huruf yang diadili karena ia mendapat tugas untuk "menggiring" orang-orang ke dalam gereja lalu menutup gereja tersebut. Belakangan diketahui bahwa orang-orang itu adalah Yahudi yang akan dimusnahkan di dalam gereja. Peristiwa itu dikenal dengan sebutan Hollocaust.

Pendek cerita, Robet mengatakan bahwa dari peristiwa tersebut kemudian memunculkan pertanyaan besar tentang, "Apakah pengetahuan itu berkorelasi dengan sikap moral orang? Dan kalau orang itu tidak punya pengetahuan, apakah dia bisa dikenakan tanggung jawab (atau sanksi) moral?"

Terlepas dari pokok pembahasan, rupanya dua pertanyaan tersebut berhasil mengusik pikiranku. Tidak jarang aku menjustifikasi orang yang berperilaku kurang sopan dan santun sebagai orang yang –gen Z biasa menyebutnya– kurang adab atau nggak ada akhlak. Kuakui itu memang sikap gegabah dan reaktif dariku yang terlanjur terbawa emosi melihat tingkah orang yang tidak sesuai atau agak berbeda dengan kompas moralku. Sebab, belakangan aku menyesal dan merasa bersalah saat mengetahui latar belakang dari orang yang sudah kujustifikasi.

Dengan perasaan bersalah itu, aku mulai membuka mata dan mencoba melihat dari berbagai sudut pandang –yang seharusnya kulakukan sejak awal. Pikiran-pikiran tentang, "mungkin saja orang itu tidak tahu bagaimana harus bersikap pada orang ini", "mungkin saja orang itu belum pernah mendapat pendidikan soal etika/moral/adab sebagaimana mestinya", "mungkin saja orang itu lupa", dan berbagai mungkin saja-mungkin saja lainnya yang memungkinkan orang itu bisa bertindak sedemikian rupa mengingat seperti apa latar belakangnya. Aku yang seharusnya lebih proaktif dalam menanggapi orang seperti itu.

"Mungkin saja orang itu tidak tahu". Tidak semua orang mempunyai privilese untuk mendapatkan pengetahuan. Tidak semua orang mempunyai privilese untuk mengenyam pendidikan. Tidak semua orang memiliki akses untuk belajar soal etika, moral, dan semacamnya.

Kembali pada pertanyaan tentang apakah pengetahuan berkorelasi dengan sikap moral seseorang, dan apakah orang yang tidak punya pengetahuan bisa dikenakan tanggung jawab moral; aku masih belum menemukan jawaban yang pasti. Barangkali jika kamu membaca tulisan ini, kamu berkenan untuk berdiskusi :) Tapi kali ini aku mulai berandai-andai.

What if.

Kalau untuk membangun suatu peradaban, atau setidaknya lingkungan masyarakat yang nyaman dan tentram, itu dibutuhkan manusia-manusia yang memiliki moral dan patuh pada norma baik tertulis maupun tidak tertulis –seperti sopan santun, dan kalau sikap moral seseorang itu benar dipengaruhi oleh pengetahuan,  maka bukankah yang harus diperkuat untuk membentuk peradaban yang bermoral tersebut adalah tentang kemudahan akses masyarakatnya dalam memperoleh pengetahuan? Sehingga tidak ada lagi alasan seseorang bisa amoral atau kurang adab dan nggak ada akhlak yang disebabkan oleh ketidaktahuan.

Itu kalau benar pengetahuan berkorelasi dengan sikap moral seseorang. Sementara itu di sisi lain, ada saja orang yang memiki kemudahan untuk memperoleh pengetahuan dan mengakses informasi serta kemampuan untuk mengenyam pendidikan, tapi ternyata sikap moralnya tetap saja patut dipertanyakan.

Ah, entahlah! Rasanya otakku sudah mentok padahal baru mikir segini :D

Terlepas dari korelasi antara pendidikan dan sikap moral seseorang, aku malah jadi berpikir, di negara yang katanya berkemanusiaan yang adil dan beradab serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatnya, kenapa bisa pendidikan –yang merupakan akses dasar untuk memperoleh pengetahuan– harus menjadi sebuah privilese (barang mewah) yang tidak semua rakyatnya mampu memperolehnya??

Terlepas dari semua itu, aku harus belajar jadi lebih bijak lagi dalam menyikapi perilaku orang lain, sebab selain belum tentu aku mengetahui latar belakangnya, bisa jadi aku juga tidak tau struggle seperti apa yang sedang mereka hadapi. Be wise and wiser, karena semua orang sedang berusaha survive di tengah kehidupan yang semakin mengikis kewarasan ini.


Cimahi, 16 November 2025

Jumat, 15 Agustus 2025

Resume | Materi Kegiatan Workshop Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Kurikulum Berbasis Cinta



Resume Materi Kegiatan Workshop Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta
IGRA Kecamatan Cimahi Tengah
Rabu, 13 Agustus 2025
di Gedung Dakwah Masjid Agung Cimahi
Oleh Hj. Siti Zakiyah, S.Ag., M.Pd. dan Nadya Nikki Gadizoraya

“Mengimplementasikan Pembelajaran Mendalam untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran”


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Seratus tahun pasca kemerdekaan, tepatnya tahun 2045, Indonesia ditargetkan menjadi negara maju yang setara dengan negara-negara maju di dunia. Demi mencapai target tersebut, muncul gagasan tentang upaya untuk mempersiapkan generasi muda yang kompeten dan memiliki daya saing. Generasi inilah yang disebut dengan generasi emas, yaitu putera-puteri atau penduduk Indonesia yang dua puluh tahun mendatang akan menginjak usia produktif. Anak-anak kita yang diharapkan dapat membawa kemajuan bagi bangsa dan negara.

Langkah mendasar yang bisa dilakukan guna mempersiapkan generasi emas tersebut antara lain melalui pendidikan. Beberapa upaya yang dilakukan dalam mengembangkan sistem pendidikan, diantaranya adalah mengimplementasikan Pembelajaran Mendalam (deep learning) yang dirancang oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kurikulum Berbasis Cinta yang digagas oleh Kementerian Agama.

Visi Pembelajaran Mendalam

Memberikan Pendidikan Bermutu untuk Semua

Landasan Hukum

  1. Kebijakan Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025;
  2. Kepdirjen Pendis No. 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta

Dalam Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025, implementasi pembelajaran mendalam berupa penyesuaian kurikulum dan pendekatan pembelajaran tanpa harus membuat kurikulum baru, serta penambahan mata pelajaran coding dan kecerdasan arfisial (AI) yang mulai diajarkan bertahap mulai kelas 5 Sekolah Dasar. 

Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

Screenshot 2025-08-01 010730

Dimensi Profil Lulusan

  1. Keimanan dan Ketakwaan kepada Tuhan Yang Mahaesa; 
  2. Kewarganegaraan;
  3. Penalaran Kritis; anak mampu menumbuhkan nalar kritisnya.
  4. Kreativitas; lahirnya anak-anak kreatif dan inovatif yang mampu keluar dari kotak berupa zona nyaman.
  5. Kolaborasi; anak mampu bekerja sama dalam tim maupun orang-orang di sekitarnya.
  6. Kemandirian; anak mampu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
  7. Kesehatan; anak terbiasa mengkonsumsi makanan sehat.
  8. Komunikasi; anak mampu menyampaikan apa yang dirasakan dan mampu menjadi pendengar aktif.

Prinsip Pembelajaran Mendalam

  • Berkesadaran (Mindful)

Anak diajak untuk sepenuhnya sadar akan proses belajar, seperti memahami tujuan pembelajarannya, menghubungkan materi dengan pengalaman nyata, serta merefleksikan apa yang sudah atau belum dikuasai.

  • Bermakna (Meaningful)

Materi yang diajarkan tidak hanya dihafalkan tetapi dipahami secara mendalam dan dapat diterapkan dalam kehidupan. Diharapkan mampu menunjukkan relevansi pembelajaran dengan peristiwa dunia nyata sehingga anak dapat termotivasi dan terlibat dalam aktivitas sehari-hari.

  • Mengembirakan (Joyful)

Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga pembelajaran tidak terasa sebagai beban melainkan menjadi pengalaman yang berkesan sehingga anak merasa senang untuk pergi ke sekolah.

Prinsip Pengalaman Pembelajaran Mendalam

  1. Memahami; anak tidak hanya menerima informasi atau pembelajaran baru, tetapi juga mampu mengkomunikasikan dengan bahasa sendiri tentang apa yang dipelajarinya.
  2. Mengaplikasikan; anak mengalami perubahan sikap dengan mampu menerapkan pembelajaran yang diterapkan dalam keseharian, karena ilmu akan kurang bermakna jika hanya sekadar menjadi pengetahuan.
  3. Merefleksi; tanyakan pada anak apa yang sudah dipelajari, bagaimana anak mereka belajar, dan apa yang harus mereka lakukan.

Kerangka Pembelajaran Mendalam

  1. Praktik Pedagogik; membangun kompetensi sehingga dapat mewujudkan pembelajaran yang efektif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan anak, dengan berkolaborasi dengan melibatkan anak.
  2. Lingkungan Pembelajaran; lingkungan yang aman, nyaman, sehat, dan ramah anak merupakan elemen penting dalam Pembelajaran Mendalam.
  3. Pemanfaatan digital; teknologi sebagai media pendukung harus dimanfaatkan dengan baik untuk mendukung pembelajaran yang interaktif dan relevan, tentunya dengan pengawasan dan pengarahan.
  4. Kemitraan Pembelajaran; keterlibatan antara anak, guru, orang tua, dan komunitas sekitar mendukung pembelajaran menjadi relevan dengan peristiwa di kehidupan sehari-hari.

Kurikulum Berbasis Cinta

image-removebg-preview (1)

Topik Kurikulum Berbasis Cinta (Pancacinta)

  1. Cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW; mendorong anak untuk memahami bahwa Allah sebagai sumber segala cinta dan Rasulullah sebagai sumber teladan.
  2. Cinta kepada diri sendiri; mendorong anak untuk memahami dan menerima potensi diri, mengetahui kapasitas diri, serta bersyukur dengan apa yang ada pada diri sendiri sehingga anak dapat tumbuh percaya diri dan berintegritas.
  3. Cinta kepada sesama; mendorong anak untuk bersikap toleransi, berempati, dan mampu bekerja sama dalam lingkungan sosial.
  4. Cinta kepada lingkungan; mendorong anak untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan, serta terciptanya sekolah yang ramah lingkungan.
  5. Cinta bangsa dan negara; menanamkan rasa nasionalisme dan semangat untuk memperjuangkan kemajuan Indonesia.

Insersi Pengalaman Belajar

Kurikulum Berbasis Cinta dilekatkan dalam pembelajaran berupa insersi tema dan insersi materi.

Tujuan Kurikulum Berbasis Cinta

  1. Cinta sebagai prinsip
  2. Humanis
  3. Nasionalis
  4. Naturalis
  5. Toleransi

Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta

  1. Intrakurikuler
  2. Iklim Madrasah Pembiasaan
  3. Ekstrakurikuler
  4. Kegiatan Keagamaan

Prinsip-Prinsip dalam Pendekatan Pembelajaran Mendalam (S.M.A.R.T)


Siswaku; siswa (anak) sebagai subjek pembelajaran.
  • Diferensiasi. Setiap anak memiliki kemampuan dan latar belakang yang berbeda; usahakan untuk memfasilitasi setiap perbedaan yang ada; tidak bisa memaksakan hasil yang sama dikarenakan perbedaan yang ada.
  • Kepercayaan. Tanyakan pada anak perihal seberapa mampu dan mau anak ingin belajar; berikan kepercayaan kepada anak supaya anak merasa nyaman; berikan keleluasaan kepada anak untuk berekspresi dan bereksplorasi.
  • Asesmen formatif. Penilaian dilakukan sepanjang anak bersekolah, yang dilihat dari, 1) Sikap yang menunjukkan “anak mau”, 2) Keterampilan yang menunjukkan “anak bisa”, dan 3) Pengetahuan yang menunjukkan “anak mengetahui”.
Mitraku; semakin banyak mitra maka semakin variatif informasi atau pengetahuan yang bisa diterima.
  • Pembelajaran kolaborasi (presentasi dan fasilitasi). Tidak hanya memberikan materi atau penjelasan melalui “ceramah”, tetapi juga mengajak anak untuk berdiskusi menyampaikan gagasan atau ide mereka.
  • Suasana belajar menyenangkan. Memaksimalkan seluruh indera anak untuk merasakan dan memberikan kesan mendalam.
  • Motivasi. Meningkatkan motivasi belajar anak supaya anak semangat untuk datang lagi ke sekolah.
  • Rentang atensi anak. Memperhatikan dan mengukur rentang atensi anak dalam menentukan kegiatan agar waktu pembelajaran dapat efektif.
Aktivitas dan Refleksi
  • Sikap. Persiapkan materi, penataan lingkungan main, dan pengenalan pada anak tentang materi.
  • Aktivitas. Harus jelas, terencana, dan menyenangkan sehingga anak dapat terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran yang menyenangkan, interaktif, dan reflektif.
  • Refleksi. Anak sudah melalui proses berpikir lalu merefleksikan, memiliki pola pikir baru, serta sebagai acuan untuk merancang pembelajaran selanjutnya.
Rangkaikan
  • Struktur dan sekuen dalam pembelajaran. Perencanaan kegiatan secara terstruktur dan sesuai konsekuen.
  • Hubungkan dan rangkum. Relevansi pengetahuan dengan realitas anak.
  • Variasi Latihan. Supaya tidak membosankan.
Transformasi
  • Apa manfaatnya bagiku? (AMBAK). Pengalaman belajar tidak hanya sebatas pembelajaran menggunakan media yang ada di sekolah tetapi juga anak dapat merasakan manfaat dari pembelajaran tersebut. Contohnya, di sekolah anak belajar melipat kertas, implementasinya anak mampu melipat sajadah, pakaian, atau selimut di rumah.
  • Pengalaman belajar.
  • Tindak lanjut. Pembelajaran tidak hanya sampai pada anak merenung dan mengkomunikasikan, melainkan ada tindak lanjut jika tujuan belum tercapai. Bisa juga dengan memberikan reward dan melakukan evaluasi.
Semoga Allah selalu memberi kita petunjuk dan pertolongan dalam upaya mendidik dan memelihara amanah dari-Nya.
Aamiin yaa rabbal'alamin...
Wallahul muwaffiq ilaa aqwamit-thariq.
                                        Mutiara Berjelaga

Selasa, 06 Mei 2025

Tidak Mau Kehilangan Diriku

Aku kembali berada di titik itu.
Titik di mana harus memilih untuk terus melaju atau berhenti.
Atau berjalan mundur lalu menenggelamkan diri dalam kubangan masa lampau.

Aku kembali berada di tempat itu.
Entah apa.
Seperti lorong yang pekat.
Atau ruang hampa dengan belenggu yang mengikat.

Siapa itu yang tertatih penuh jerat?

Tubuhku kembali terpaku.
Aku melihat dirinya yang terus berlari, compang-camping terseok-seok.
Serta dirinya yang menahan untuk tidak meneruskan perjalanan yang melelahkan.

Aku melihat dirinya terus mencari arah yang buta.
Perjalanan macam apa yang dia tempuh sampai begitu ripuh?

Aku melihat dirinya mulai mendekat.
Bukan, bukan dia yang mendekat,
tapi aku yang berusaha meraihnya agar tidak pergi terlalu jauh.
Karena aku tidak mau lagi kehilangan diriku.


Cimahi, 12 April 2025