Minggu, 11 November 2018

Mengambil Ibrah dari Majalah Risalah



Mengikuti lajunya zaman, kegiatan dakwah tidak lagi sebatas berdiri di atas mimbar atau dalam majelis ta’lim. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyebarkan ajaran Islam, salah satunya melalui media pers. Perkembangan pers di Indonesia yang mengalami puncak kejayaan sejak era reformasi nampaknya dimanfaatkan oleh para pelaku dakwah dalam memaksimalkan kegiatan dakwah.

Kamis, 21 Desember 2017

Feature | Mengenal Budaya Sunda dari Kampung Adat Cireundeu (Bagian 3)

Dua dari unsur kebudayaan diantanya adalah bahasa dan kesenian. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat adan Cireundeu pastinya adalah Bahasa Sunda. Terdapat undak usuk basa (tingkatan bahasa) yang diaplikasikan dalam interaksi sehari-hari. Tingkatan bahasa dari yang paling halus untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, sampai dengan bahasa yang kasar untuk dipakai kepada hewan.
Aksara Sunda tradisional juga banyak dijumpai di kampung tersebut. meskipun umumnya digunakan aksara latin biasa, tetapi aksara Sunda tradisional tetap dipakai pada situasi tertentu, seperti ditulis pada batu nisan dan pepatah-pepatah. Meski tidak intens digunakan, disana aksara Sunda tetap harus dipelajari, minimal anak-anak mengenal aksara tersebut.
Sebab jika tidak mengenal aksara Sunda, bagaimana masyarakat bisa mengetahui sejarah dan ajaran-ajaran yang ada di tempat tinggalnya. Adapun diantara lebih dari lima puluh model aksara Sunda tradisional, model yang digunakan di kampung adat Cireundeu adalah model cacarakan (hanacaraka).
Dalam bidang kesenian, kupikir seni musik cukup menonjol dalam budaya masyarakat kampung adat Cireundeu. Disana tidak ada istilah menggurui atau mewajibkan generasi mudanya untuk mempelajari kesenian yang ada. Para “senior” hanya

Feature | Mengenal Budaya Sunda dari Kampung Adat Cireundeu (Bagian 2)

Selain tiga ketentuan yang sudah dibahas sebelumnya, masyarakat adat Cireundeu juga memiliki pedonan hidup berupa falsafah-falsafah yang diturunkan dari sesepuh terdahulu. Kita tentunya sering –minimal pernah– mendengar  istilah “silih asah, silih asih, silih asuh” yang identik dengan Orang Sunda.
Istilah terkenal itu nampaknya tidak hanya sebagai ungkapan pemanis tetapi benar-benar diterapkan oleh masyarakat adat Cireundeu. Ungkapan tersebut sarat akan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan yang melahirkan asas persamaan derajat sehingga tidak ada diskriminasi yang disebabkan oleh strata sosial.
Mereka memandang bahwa semua manusia itu sama. Seluruh ras dan bangsa yang ada di dunia hanya dibedakan oleh lima hal: bahasa, aksara, adat, budaya, dan rupa. Dari segi rupa, contohnya, manusia dibedakan berdasarkan warna kulit.
Uniknya, selain menyimbolkan elemen yang ada di alam, empat kain dengan warna berbeda yang dipasang di langit-langit bale juga menggambarkan

Sabtu, 18 November 2017

Feature | Mengenal Budaya Sunda dari Kampung Adat Cireundeu (Bagian 1)

*numpang eksis ._.v abaikan pose macem anak TK*
Bismillahirrahmanirrahim.
Entah bisa disebut feature atau tidak, yang jelas tulisan ini merupakan hasil dari kunjunganku bersama dengan kawan-kawan kelas B angkatan 2015 jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Bandung ke Kampung Adat Cireundeu pada Kamis, 16 November 2017. Kunjungan tersebut merupakan salah satu tugas dalam mata kuliah Bahasa dan Budaya Sunda. 
Terlepas dari latar belakang beban tugas mata kuliah, pengalaman berkunjung dan berbincang langsung dengan beberapa tokoh dari masyarakat adat tersebut memberikan kesan tersendiri bagi kami –khususnya bagiku– dalam memaknai bagaimana manusia menuhankan Tuhan, manusia yang hidup di alam dunia, dan manusia yang memanusiakan manusia.
Tanpa bermaksud mengunggulkan satu suku di atas beragamnya suku bangsa lain yang ada di Indonesia, aku hanya berusaha menyampaikan kembali pelajaran yang kuperoleh. Sekedar tambahan, aku sendiri berasal dari keluarga Jawa, tapi itu tidak menjadi pembatas bagiku untuk meraup pelajaran dan kebaikan dari mana saja.
Terakhir, tulisan ini mungkin cukup panjang jadi aku akan membaginya dalam tiga bagian. Tanpa basa basi lagi, cuss langsung saja pembahasan...
***
Kampung adat  Cireundeu merupakan salah satu kampung yang berada di Kota Cimahi, Jawa Barat, tepatnya terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan. Sebenarnya di wilayah “Cireundeu” terdapat beberapa rukun warga (RW) yang dihuni oleh berbagai penduduk dengan beragam kepercayaan, tetapi masyarakat adatnya sendiri terkhusus berada di RW 10.
Pada dasarnya, kehidupan masyarakat kampung adat Cireundeu sama dengan masyarakat pada umumnya yang hidup dengan harmonis. Hal unik yang membedakan masyarakat adat Cireundeu dengan masyarakat umum adalah