Rabu, 14 Juli 2021

Yang Menghilang Tak Lagi Pulang

Tamu menyapa tanpa disebut
Tak satupun mau menyambut
Bertandang tanpa diundang
Tanpa tanda tak bisa dihadang

Tak kuasa akui fakta
Ketika yang nyata menjelma fana
Waktu terhenti menyisakan duka
Dan dunia ternyata bukan apa-apa

Seketika tawa seakan direnggut
Kenangan melintas serupa kabut
Lalu nama-nama berkumandang
Dan yang menghilang tak lagi pulang

Kepergian memaksa direlakan
Sisakan sesal yang tak lenyap oleh ratapan
Hingga segala kepedihan dan rindu 
Hanya diredam dalam doa yang kelu.

"Allahummaghfirlahum, warhamhum"

Kamis, 17 Juni 2021

Tentang Penilaian Orang Lain, Itu Bukan Tanggungjawabmu

Kubilang pada diriku:
"Dirimu dididik bertahun-tahun oleh orang tuamu, dibentuk oleh lingkungan sekitarmu, dan menjadi teguh oleh prinsipmu.
Dirimu tidak ditanam berdasarkan pandangan orang lain, dan tidak dipupuk oleh kecurigaan orang lain, jadi tidak perlu acuh jika disiram oleh penilaian orang lain.
Pada dasarnya manusia hanya bisa melihat apa yang ingin mereka lihat. Barangkali orang lain menilaimu sekadar berdasarkan beberapa persen yang mereka lihat dari dirimu, atau malah hanya timbul dari sebuah kecurigaan.
Kamu lebih tahu tentang bagaimana kerja keras, rasa sakit, keringat, dan air mata yang membentukmu hingga saat ini.
Sehingga kamu hanya perlu bertanggung jawab atas dirimu, dan agamamu. Sementara tentang bagaimana penilaian orang terhadapmu, itu bukan tanggungjawabmu, sebab bukan kapasitasmu mengatur hati orang lain.
Kamu mungkin tidak pandai menghafal dalil-dalil moral atau agama, tapi setidaknya kamu pernah mempelajarinya, sehingga secara tidak langsung itu yang membuatmu punya prinsip.
Selama kamu hidup dengan memegang prinsipmu, kamu hanya perlu menjalani hidup dengan niat baik, mengenyahkan segala prasangka, kebencian, serta kedengkian, kamu tidak pantas menyerah hanya karena penilaian orang lain.
Kamu tidak perlu sibuk menggiring opini, membangun imej, apalagi sampai bermuka dua untuk menarik simpati orang lain, sebab manusia hanya bisa melihat apa yang ingin mereka lihat. Dan sejatinya, kamu tidak membutuhkan pembelaan dari manusia lain. Sebab pada waktunya nanti, tanganmu, kakimu, matamu, dan telingamu yang akan bersaksi; pada waktu ketika hanya tuhanmu yang berhak menghakimi.
Kamu hanya perlu bersikap baik demi dirimu dan karena tuhanmu. Bukan demi terlihat baik oleh orang lain. Sebab, seberapa pun indahnya bunga yang kamu tunjukkan, orang yang dalam benaknya terselip setitik pikiran negatif hanya akan melihat duri pada tangkainya.
Kamu yang paling mengetahui dirimu, jadi hiduplah dengan baik sebagai dirimu. Dan soal penilaian orang tentang dirimu, jadikan pembelajaran. Sebab kamu sangat tidak pantas menyerah hanya karena hal itu.
Ingat kata Gus Dur, 'Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian orang lain, dia masih hamba amatiran.'
So... Just love yourself 🤟"

Jumat, 15 Januari 2021

Dilematik Sekolah Daring

Sudah sebelas bulan terhitung sejak Februari 2020, namun masa pandemi di Indonesia nampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat. Peraturan demi peraturan baru kembali dicanangkan dengan harapan dapat menekan angka penularan virus yang belum kunjung ditemukan penawarnya. Sama halnya dengan pembatasan sosial di lingkungan industri dan perkantoran yang mengurangi jam kerja secara langsung, kegiatan belajar mengajar di sekolah juga mengalami dampak yang mewajibkan setiap sekolah terpaksa "ditutup".

Sistem pembelajaran sekolah secara daring kemudian dipilih sebagai solusi alternatif, supaya proses belajar mengajar tetap dapat dilaksanakan di tengah upaya pencegahan penyebaran virus. Namun di sisi lain, model pembelajaran yang dilakukan tanpa tatap muka tersebut menimbulkan problematika tersendiri, terlebih pada tingkat pendidikan dasar dan kanak-kanak. Selain kendala teknis yang berkaitan dengan media komunikasi, efektifitas sekolah daring juga kiranya terkendala oleh faktor-faktor non-teknis sebab pada usia dasar tersebut, anak-anak cenderung membutuhkan didikan yang dilakukan dengan lebih intensif.

Sistem pembelajaran yang tidak diselenggarakan di sekolah menjadikan rumah sebagai pusat kegiatan siswa. Tanggung jawab akan terpenuhi atau tidaknya kebutuhan ilmu yang diperoleh peserta didik juga ikut ditanggungkan kepada orang rumah. Memang pada dasarnya pendidikan anak adalah tanggung jawab orang tua dan guru, namun pembelajaran daring ini membuat orang tua lebih intens dalam mengontrol proses belajar anaknya dengan "ikut bersekolah".

Mengembalikan Fitrah Al-Ummu Madrasatul-Ula

Sudah menjadi pandangan umum bahwa pendidikan yang pertama dan utama berasal dari lingkungan terdekat yakni keluarga. Terlebih masyarakat sudah tidak asing lagi dengan istilah ibu sebagai pusat pembelajaran pertama bagi anak. Dampak positif dari sekolah daring salah satunya adalah "mengembalikan" fitrah tersebut kepada para ibu atau orang tua di rumah agar lebih maksimal dalam mendidik anak-anaknya. Dalam tugas rumah tambahan ini juga terdapat hal positif dimana orang tua dapat memantau secara langsung sampai mana kemampuan anaknya dalam menerima pembelajaran, serta lebih membangun kedekatan dan mempererat ikatan orang tua dengan anak.

Di sisi lain, dalam konsep ini kiranya perlu juga mempertimbangkan kondisi emosional dan psikologis orang rumah terutama ibu. Double burden yang seringkali dilimpahkan kepada para ibu membuatnya harus memiliki kemampuan multitasking. Hal tersebut terkadang menjadi tekanan lebih bagi seorang ibu, sehingga tidak jarang akibat kurangnya kemampuan mengendalikan emosi saat mendampingi anaknya sekolah daring, malah menjadi bumerang terhadap hubungan ibu-anak. Imbasnya antara lain timbul kesalahan komunikasi yang disebabkan faktor emosional, bahkan tidak jarang dijumpai kasus kekerasan dalam mendidik anak. Keadaan itu bisa terjadi salah satunya dikarenakan kurang terperhatikannya kondisi psikis ibu. Untuk itu, guna meminimalisir resiko tersebut, di samping para ibu sendiri perlu melatih diri dalam mengendalikan emosi, dibutuhkan juga dukungan dari berbagai pihak dalam "meringankan beban" ibu, sehingga fitrah al-ummu madrasatul-ula dapat diinternalisasikan dalam lingkungan keluarga.

Terlepas dari segala kekurangan atau kelebihannya, kita tidak bisa menghakimi cara seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Dilema Orang Tua Pencari Nafkah

Salah satu konsekuensi pembelajaran yang dilakukan secara daring yakni "memaksa" orang tua untuk mau-tidak mau harus "ikut sekolah". Partisipasi orang tua ataupun orang rumah sangat dibutuhkan dalam terselenggaranya sekolah daring. Hal ini mengharuskan orang tua untuk meluangkan waktu khusus supaya anaknya tetap bisa mengikuti pembelajaran sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh pihak sekolah.

Selain disibukkan oleh pekerjaan domestik, mengurus lebih dari satu anak yang juga bersekolah daring, serta urusan rumah tangga lainnya yang harus diselesaikan, terdapat kendala tersendiri bagi anak-anak yang orang tuanya merupakan pencari nafkah. Jam kerja yang berbarengan dengan jam sekolah anak membuat salah satunya harus mengalah atau malah mengorbankan waktu masing-masing. Beberapa anak yang orang tuanya bekerja harus menunda pembelajaran, terlebih dalam hal penyetoran tugas karena menunggu berakhirnya jam kerja. Di sisi lain, sesampainya di rumah, orang tua yang sudah lelah bekerja harus "buru-buru" membimbing anaknya dalam menyelesaikan tugas sekolah sebab deadline yang telah terlewat.

Tentunya kita tidak bisa menjadikan permasalahan semacam ini sebagai alasan untuk menjustifikasi orang tua terutama ibu yang bekerja. Sebab selain untuk membantu memenuhi kebutuhan finansial rumah tangga, di samping perannya sebagai seorang ibu, perempuan juga manusia yang memiliki kebutuhan aktualisasi diri dimana mereka butuh untuk mengembangkan bakat dan karirnya. Terlepas dari beban gandanya itu, tentunya para orang tua pencari nafkah akan tetap berusaha sebaik mungkin untuk bertanggung jawab terhadap urusan domestik, profesional dalam bekerja, dan terutama kepenuh-hatian mendidik anaknya. Oleh karena itu, diperlukan saling pengertian antara anak dan orang tua, serta masyarakat termasuk guru sekolah.

Dilema Guru: Tanggung Jawab Nurani untuk Menyampaikan Ilmu dan Kewajiban Terkait Kedinasan

Proses belajar mengajar yang dilakukan secara daring tidak hanya menimbulkan polemik di dalam sistem peraturannya atau permasalahan teknis lainnya, tetapi juga memunculkan dilema bagi subjek dan objek pembelajarnya. Pada sekolah daring, orang rumah sebagai pembimbing langsung, serta guru sebagai subjek pendidik yang memberikan materi memiliki permasalahan masing-masing. Kewajiban guru adalah memberikan ilmu dan pengetahuan baru kepada murid-muridnya. Dalam hal ini, guru memiliki tanggung jawab tentang bagaimana anak didiknya mampu berkembang dan menyerap pembelajaran dengan baik sehingga dapat mengimplementasikan kemampuannya sampai dewasa nanti.

Di sisi lain, tuntutan dinas untuk memenuhi standar kompetensi dalam kurikulum yang diterapkan, menjadi PR tersendiri bagi para guru yang seringkali terbentur serangkaian kendala ketika pembelajaran dilakukan secara daring. Di samping kendala yang berhubungan dengan penggunaan teknologi komunikasi modern, kewajiban untuk memenuhi standar kompetensi, serta perkara-perkara teknis terkait kedinasan lainnya, tidak jarang membuat beberapa guru mengajar sebatas untuk memenuhi tugas menyampaikan materi bahan ajar, sebab kurang memadainya situasi dan kondisi serta kapasitas untuk memantau paham-tidaknya siswa terhadap materi yang telah disampaikan, misalnya dikarenakan waktu pembelajaran yang singkat.

Namun hal tersebut tidak bisa dijadikan generalisasi hingga memunculkan justifikasi bahwa guru hanya mengajar sebagai formalitas. Ditengah kondisi sekolah daring yang tidak memadai serta efektifitasnya terkendala, dan terlepas dari segala tuntutan yang ada, pastinya setiap guru akan berusaha mengajar sebaik mungkin dengan harapan anak didiknya mampu berkembang secara maksimal dan tumbuh menjadi orang-orang hebat.

Diantara berbagai permasalahan dan konsekuensinya, proses belajar mengajar dari rumah masing-masing dilakukan agar para siswa tetap dapat memenuhi kebutuhan pendidikan dan haknya untuk mendapatkan ilmu yang layak, ditengah keadaan yang mengharuskan orang-orang saling menjaga jarak aman. Barangkali ada berbagai alternatif lain yang akan mampu menunjang stabilitas dunia pendidikan di tengah pandemi, namun kiranya penyelenggaraan sekolah daring dipilih atas dasar kebaikan dan diharapkan mampu mendatangkan kebaikan pula. Tentunya kebaikan tersebut tidak akan diperoleh secara maksimal tanpa keterlibatan berbagai pihak yang berusaha dengan maksimal pula.

Semoga pandemi ini segera berakhir, berbagai kesuraman segera sirna, dan dunia bisa kembali baik-baik saja. Segala kebaikan dan kebenaran datangnya dari Tuhan yang Maha Esa...

Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariq 

Cimahi, 13 Januari 2021

Kamis, 14 Januari 2021

Balada Tahun Tak Terkata

Dua ribu dua puluh menjadi tahun tak terkata. Tidak banyak hal baru yang diraih, malah kami dipaksa untuk melepas. Impian-impian yang diharapkan, resolusi di awal tahun, serta rencana rencana yang sudah dirancang, menjadi perkara yang harus ditunda atau malah terpaksa dikubur dalam-dalam.

Dua ribu dua puluh adalah tahun tak terkata. Dibuka dengan derasnya hujan yang menyebabkan genangan banjir membludak dimana-mana, disusul oleh wabah penyakit jenis baru yang membutuhkan waktu lama untuk reda. Banyak hal yang harus direlakan membuat kami dipaksa untuk belajar tentang melepas kehilangan.

Dua ribu dua puluh merupakan tahun tak terkata. Beberapa pekerja terpaksa kehilangan mata pencaharian, kebutuhan sosial masyarakat dibatasi sebab pandemi, ekonomi seakan dikebiri, hingga manusia dihadapkan dengan puncak kehilangan berupa kematian.

Dua ribu dua puluh itu tahun tak terkata. Banyak duka, luka, dan kecewa, hingga hari-hari seakan berlalu begitu saja, juga maut yang seolah dipercepat. Ini tahun tak terkata, yang dibuka dengan sambutan paling haru, kemudian ditutup oleh kisah yang pilu.

Namun di balik segala suram, seperti ungkapan Gus Candra Malik, "Betapa pun fana, dunialah kini rumah kita". Di tahun tak terkata ini, ada begitu banyak hikmah yang bisa dipetik.

Cimahi, 16 Desember  2020

Rabu, 16 Januari 2019

Tentang Perbuatan Baik yang Tidak Lagi Baik

Kubilang pada diriku, "Tidak perlu sibuk menampilkan bahwa kamu orang baik. Kamu hanya perlu berusaha memperbaiki agar menjadi pantas untuk dikatakan baik. Apa gunanya mengumbar kebaikan jika hanya untuk sekadar menagih simpati dan mengejar eksistensi? Lagi pula, siapa yang coba kamu tarik perhatiannya dengan cara memamerkan kebaikan yang kamu lakukan? Manusia; orang-orang. Tanpa kamu mengumbar kebaikanmu sekalipun, jika kamu berbuat baik, orang-orang akan mengingat kebaikanmu. Bukankah tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula?


Tidak perlu sibuk berteriak pada dunia bahwa kamu orang baik. Pada siapa kamu berteriak bahwa kamu orang baik? Apakah pada manusia yang sama-sama pernah berbuat kesalahan? Lantas apa tujuannya? Bisa saja kamu hanya mencari pengakuan, atau malah untuk menunjukkan bahwa orang-orang tidak lebih baik dari kamu. Jika seperti itu, karena siapa kamu berbuat baik? Toh, tanpa kamu berteriak sekalipun, Tuhan Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Bisa saja dengan meneriakkannya, kebaikan tersebut malah berakhir menjadi tidak berarti apa-apa.


Tidak perlu sibuk menyeru orang-orang untuk melihat bahwa kamu orang baik. Kamu hanya diperintahkan untuk menyeru kepada kebaikan. Apa kau pikir Tuhanmu ridha pada dakwah yang melahirkan ujub dan riya dari tingkahmu yang sering pamer? Menyerukan kebaikan yang baik adalah melalui perbuatan, maka berbuat baiklah tanpa perlu menghitung-hitung kebaikan yang telah kamu perbuat. Toh, malaikat selalu siaga mencatat apapun yang kamu lakukan.


Tidak perlu sibuk menampakkan bahwa kamu orang baik. Apa kamu kamu berpikir bahwa kamu benar-benar orang baik hanya karena telah melakukan beberapa kebaikan kemudian dengan percaya diri kamu memamerkannya? Orang-orang mungkin akan memandang kamu orang baik, tapi bisa saja itu karena Tuhan menutupi keburukan yang coba kamu sembunyikan.


Jadi, berbuat baiklah tanpa perlu merasa jadi yang paling baik. Berbuat baik tanpa perlu mengumumkan perbuatanmu, apalagi menagih simpati orang-orang dari hal itu. Aku mungkin tidak lebih baik darimu, dan kamu bisa jadi tidak lebih baik dariku. Toh, hanya Tuhan yang mengetahui seberapa baiknya niat menuju ikhlas."

Selasa, 01 Januari 2019

Tentang Kekecewaan dan Penyesalan


Kubilang pada diriku, "Tidak semua usaha membuahkan hasil yang diinginkan. Tidak semua keinginan bisa berjalan sesuai harapan. Tidak semua harapan akan terkabul membawa kebahagiaan. Kemudian ketika hal tersebut terjadi, kamu akan merasa kecewa. Kekecewaan akan terus ada jika dirimu hanya terobsesi pada kesempurnaan. Lalu kesempurnaan seperti apa yang kamu mau?
Kamu perlu berusaha untuk meraih apa yang kamu inginkan, dan mempunyai harapan supaya tidak putus asa di tengah jalan. Tapi ketika semua hal tidak berjalan sesuai rencana, atau hasil yang kamu peroleh tidak memuaskan, mungkin segitulah yang pantas kamu dapatkan. Kamu tidak bisa menuntut kesempurnaan atau bahkan itung-itungan dengan Tuhan. Sebab beberapa keadaan tidak bisa dipaksakan, dan ketika Tuhan telah menentukan, tentunya Ia tahu apa yang kamu butuhkan.
Ketika jalan yang kamu tempuh tidak membawamu pada tujuan, kamu mulai merasakan penyesalan. Banyak orang bilang, lebih baik menyesal karena telah melakukan sesuatu daripada menyesal karena tidak melakukan sesuatu. Tapi nyatanya, tidak ada hal baik atau yang lebih baik ketika kamu tengah berada dalam penyesalan. Kamu akan mulai menyalahkan. Menyalahkan orang-orang, menyalahkan keadaan, menyalahkan dirimu sendiri. Itu bisa jadi hal yang wajar, namun tidak akan membawamu pada penyelesaian.
Kemudian apa yang akan kamu lakukan? Mungkin kamu perlu menangisi penyesalan, dan menerima ketidaksempurnaan. Toh, setidaknya yang kamu lakukan sudah cukup baik, karena kamu telah berusaha. Kemudian melanjutkan perjalanan, dan menyerahkan semuanya pada Tuhan. Ia Mahatahu tentang apa-apa yang baik bagimu."

Minggu, 09 Desember 2018

Sepotong Kenangan dari Girimulya

Assalamu'alaikum...

Hai, teman-teman KKN Desa Girimulya... Gimana kabarnya, nih? Nggak kerasa, yah, udah tiga bulan aja pasca berakhirnya masa KKN. Ada yang kangen nggak, nih, sama admin? *pede banget, ya* Hehe, maksudnya kangen nggak sama masa-masa selama sebulan KKN di tempat orang, Desa Girimulnya? Kalo admin, sih... kangen nggak, ya???

Sabtu, 08 Desember 2018

Sepenggal Kisah KKN


Mahasiswa...
Sebuah predikat yang sering dielu-elukan masyarakat pada umumnya.
Sebuah predikat dengan berbagai tanggung jawab untuk diemban.
Sebuah predikat yang kadang membuat kami berbangga diri.
Sebuah predikat yang bisa membuat kami tinggi hati.
Tapi di luar kampus, mungkin kami bukan apa-apa.
Banyak hal tak terduga yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya.
Kami dipertemukan sebagai keluarga, misalnya.
Dari berbagai asal-muasal yang berbeda.
Berbagai jurusan yang berbeda.
Berbagai karakter yang berbeda.
Berbagai pola pikir yang berbeda.
Dan di sebuah desa bernama Girimulya, kami dipersatukan untuk bekerja sama.
Tentang bagaimana mengamalkan ilmu yang diperoleh.
Bagaimana cara membimbing sesama.
Bagaimana menyatukan pendapat yang berbeda.
Bagaimana hidup bersama warga Girimulya.
Banyak permasalahan yang kami hadapi.
Mulai dari kurangnya komunikasi,
hingga terlalu mengedepankan ego pribadi.
Tapi di sini kami belajar mencari solusi.
Di sini kami belajar saling memahami.
Di sini kami belajar saling mengerti.
Di sini juga kami belajar pentingnya rendah hati.

Agustus, 2018

The Gift of A Friend

Aku memiliki seorang teman. Dia gadis yang baik dan cukup ramah. Meskipun kami baru berteman selama beberapa tahun, tapi aku merasa senang berteman dengannya.

Aku tidak terlalu mengerti apa jenis pertemanan kami. Sebelumnya aku tidak pernah memiliki teman semacam dia, jadi seringkali aku tidak tahu harus bersikap bagaimana kepadanya.

Sebenarnya, dia gadis yang periang. Ya, meskipun terkadang dia memiliki sedikit rasa rendah diri, tapi dia sering menyemangatiku. Aku tidak tahu kenapa dia suka menyemangatiku sementara dia sendiri membutuhkan lebih banyak sikap optimis. Ah, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya. Bahkan eberapa orang menganggapnya gadis yang sedikit aneh, dan terkadang aku juga berpikiran seperti itu.

Banyak Luka yang Dipendam

Banyak orang terlihat baik-baik saja, tapi sebagian daripadanya hanya berusaha menyembunyikan kesakitannya. Mereka memendam luka pada titik terdalam hingga tanpa sadar itu sama saja seperti memupuknya dengan garam. Sekalipun sadar, mereka akan tetap diam sebab tidak tahu cara mengungkapnya. Atau mereka mungkin berpikir tidak ada gunanya jika luka-luka itu diumbar sebab sebagian besar orang tidak ingin tahu dan tidak perlu tahu kisah di balik kesakitan mereka.
 
Banyak orang terlihat kuat dan tegar, tapi sebagian daripadanya hanya berusaha mengatasi kesakitannya sendiri. Mereka mengubur luka dalam-dalam dengan harapan luka itu akan luruh dengan sendirinya. Mereka tidak mengadukan kesakitannya kepada banyak orang sebab mereka pikir tidak semua orang bisa memaklumi lukanya. Tapi ketika mereka mulai menceritakan kesakitannya, mungkin saja itu adalah titik jenuhnya. Tidak seperti pengeluh yang sekadar mencari perhatian. Lebih dari itu, mereka mungkin membutuhkan pertolongan.

Artikel | Benarkah Perilaku Konsumtif Mendatangkan Kebahagiaan?

Perilaku konsumtif nampaknya tidak bisa lagi dipisahkan dari masyarakat modern. Keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan ini belakangan sudah menjadi gaya hidup khususnya bagi masyarakat perkotaan. Untuk mencapai kepuasan yang maksimal, kita seringkali tidak bisa membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang hanya keinginginan semata.

Rabu, 05 Desember 2018

Perjalanan Kelompok

Dalam sebuah perjalanan kelompok, ada yang berjalan sangat cepat di depan, ada yang berjalan terlalu santai hingga tertinggal, ada yang memilih jalur lain atau malah berhenti, dan ada yang harus terhenti karena beberapa kendala.
Ada yang berjalan duluan tanpa peduli pada rekan yang tertinggal, ada yang menuntut untuk berjalan lebih cepat, ada yang menunggu tanpa melakukan apapun, dan ada yang berbalik mengulurkan tangan atau membantu meringankan beban.
Beberapa orang terlalu fokus pada jalannya sendiri, sebagian orang mengabaikan bantuan yang ditawarkan, dan sebagian lainnya berusaha bersama-sama untuk sampai di tujuan.

Fiksi Mini | Rasa Gugup Ini Wajar

Beberapa orang berlalu lalang di hadapanku.

Mereka semua memandangku dengan tatapan yang begitu antusias.

Dapat kurasakan tubuhku menggigil saat keringat dingin menetes dari pelipisku.

“jika saja sedikit kesalahan terjadi, maka semuanya akan menjadi kacau”.

Jantungku berdebar kencang ketika pikiran itu muncul dalam benakku.

Puisi | Jadi Manusia Berpendidikan

Jadi Manusia Berpendidikan
Oleh: Fitria Wulandari

Nak, punya banyak pengetahuan itu penting
Supaya kau tidak mudah ditipu
Supaya kau tidak gampang dibodohi
Supaya kau tidak lantas dicurangi
Agar bangsa ini tidak lagi dipecundangi

Nak, menuntut ilmu itu wajib
Layaknya cahaya penerang diantara gelapnya kebodohan
Ilmu menerangi seluruh aspek kehidupan
Bukan hanya untukmu, tapi juga orang-orang sekitarmu
Kau bisa bawa mereka ke tempat yang lebih baik dari sebelumnya

Cerpen | Kartiniku Telah Kembali

"Bu, R.A. Kartini hebat, ya. Nisa ingin jadi sepertinya."

Kalimat itu selalu terngiang dalam benak Ibu setiap kali ia merindukan Nisa, anak sulungnya yang sedang menempuh pendidikan di Bandung.
Sejak Bapak meninggal, Ibu tinggal dengan kedua anaknya, Nisa dan Fajar. Namun hampir dua tahun ke belakang ia hanya tinggal dengan Fajar, anak bungsunya yang masih duduk di kelas dua SMA karena Nisa memilih merantau ke Bandung untuk kuliah.
Seperti mimpinya saat SMP, Nisa ingin jadi seperti R.A. Kartini. Sejauh ini dia sudah berusaha keras hingga mendapat beasiswa kuliah S1. Di kampus, Nisa merupakan mahasiswa yang berprestasi dan aktif di organisasi. Kepandaian dalam berbicara membuatnya diakui bukan hanya oleh teman-temannya tapi juga oleh para dosen.

Tidak hanya aktif di kampus, Nisa juga suka membagi ilmunya. Bersama rekan-rekannya ia membentuk komunitas peduli pendidikan bagi anak jalanan. Di waktu luang, ia menulis artikel tentang feminisme dan mengirimnya pada redaksi majalah wanita. Meski bayarannya tidak seberapa, tapi pekerjaan sampingannya sebagai penulis lepas dirasa cukup untuk bekal makan beberapa hari. Nisa benar-benar menjelma menjadi "Kartini Masa Kini".

***

Senin, 03 Desember 2018

Fiksi Mini | Pelangi di Matanya

Dunia yang kelabu. Itulah kehidupanku sebelum aku melihatnya. Gadis manis dengan pelangi di matanya yang berbinar.

Aku tak percaya cinta pada pandangan pertama. Aku bahkan tidak percaya cinta. Tapi ketika kami saling menatap membuatku tenggelam dalam kedamaian.

"Aku harus memilikinya," tekadku, "dengan begitu hidupku pasti akan lebih berwarna."

Artikel | Bencana Banjir, Sebenarnya Salah Siapa?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata bencana berarti sesuatu yang menyebabkan kesusahan, kerugian, dan penderitaan; kecelakaan; bahaya. Sementara frasa bencana alam adalah bencana yang disebabkan oleh alam, seperti gempa bumi, angin besar, dan banjir.
 
Berbicara tentang banjir, hampir setiap tahunnya bencana ini selalu melanda daerah-daerah tertentu di Indonesia terutama di kota-kota besar. Jika dihubungkan dengan pengertian bencana, apakah tepat jika banjir dikategorikan sebagai bencana alam? Berhubung kejadiannya yang terjadi berulang kali, bahkan banjir dikenal dengan “bencana musiman”.

Sosok Inspiratif yang Saya Kagumi

Tentang sosok inspiratif, ada banyak tokoh baik nyata maupun imajiner yang bisa dijadikan panutan. Rasulullah Saw. sendiri merupakan sesempurna-sempurnanya suri teladan bagi manusia. Namun, tanpa mengesampingkan segala kemuliaan dari Sang Nabi akhir zaman tersebut, saya menunjuk seorang manusia biasa sebagai sosok yang saya kagumi.
 
Susan Arisanti, seorang perempuan kelahiran Blitar tahun 1990 ini cukup mengagumkan bagi saya. Mungkin jauh jika dibandingkan dengan perempuan-perempuan hebat seperti Khadijah, Aisyah, Maryam, dan Fatimah yang jelas dimuliakan oleh Allah, maka dari itu saya tentu tidak ingin membandingkannya. Namun, perempuan yang berprofesi sebagai guru fisika di salah satu SMP di Lampung ini tahu caranya memuliakan dirinya sendiri. Salah satunya lewat menulis.