Selasa, 16 Februari 2016

Pendidikan Masa Tamu



Di bawah langit tanpa atap
Di atas tanah basah tanpa alas
Belajar jadi pribadi yang peka
Di bawah hujan deras
Di dalam tenda yang lembab
Hampir saja goyah tekad
Tapi demi tujuan
Harus tabah meski berat
Manghadapi segala rintang
Di hadapan api unggun
Dalam riuh sorak sorai
Harapan kembali membara
Dari kami yang baru bersua
Dari kami yang belum lama berjumpa
Dari kami yang baru menjadi keluarga
Rela menolong sesama
Bebas-bertanggung jawab
Mengharap ridho Sang Pencipta

Kiarapayung, 28 November 2015

Prosa Liris | Memori tentang Alun-Alun Kutoarjo



Diantara malam yang bertabur bintang. Hitamnya menjadi saksi akan kenangan yang tak ingin terkikis waktu.
Dua anak kecil berkejaran mengitari beringin tua di tengah hamparan rumput hijau. Teringat kembali akan momen tertentu dimana kita merengek untuk bisa datang ke pasar malam. Atau saat harus menahan kantuk demi sebuah pertunjukan pesta kembang api yang ikut mewarnai hitamnya malam tahun baru. Juga ketika singgah di pendopo untuk sekadar mengusir letih.
Waktu...
Waktu merupakan rangkaian perjalanan yang dinamis tanpa dapat di tahan satu detik pun. Seiring waktu berjalan, semua mulai berubah. Dua anak kecil tumbuh jadi remaja yang jarang bersua.
Pernah suatu senja,

Prosa Liris | Hai, yang Kurindu

Hai sahabat, yang selalu tertangkap dalam lensa mataku adalah kegembiraan.
Telah kurekam tingkah polahmu lewat tawamu yang renyah, aksaramu yang riuh, matamu yang selalu berbinar dan pelangi yang kau bentangkan pada tiap hadirmu hingga siapapun disampingmu bisa nikmati berwarnanya hari.
Aku bukan jenius yang pandai mengkalkulasikan banyaknya masa yang kita lewati bersama karena kau juga pasti sadari banyaknya digit angka tak cukup mendekripsikan menit saat kita jalani hari-hari.
Aku sadar akan

Selasa, 07 April 2015

Fiksi Mini | Plafon Usang Berdebu

Anak-anak itu tampak saling berbisik. Sesekali menunduk mengoreskan arang pensil pada kertas di hadapannya, kemudian kembali berbisik-bisik.

Seorang anak yang duduk di belakang bahkan berani melongokkan kepala ke samping, ada pula yang sampai bertukar kertas.

Di sudut terdepan, wanita paruh baya terlihat santai dengan lembaran-lembaran kertas yang dibacanya. Ia tak begitu acuh dengan keadaan kelas yang tidak kondusif.

Prosa Liris | Untukmu, Pria Terbaikku

Bagaimana kabarmu kini?

Ah, rasanya ganjil saat melontarkan itu. Selama kita masih bersama, jarang sekali kutanyakan kabarmu secara langsung. Meski banyak hal yang kauberi padaku tak lantas membuatku tergoda untuk rajin menanyakan kabarmu.

Apakah kau masih ingat? Dulu kau begitu pandai mengatur strategi saat menggerakkan tentara-tentara mungil diatas sebidang papan berpetak hitam-putih. Seringkali aku menantangmu untuk bermain, dan pada akhirnya aku harus menerima skak-mat karena kalah cerdas dibandingkanmu.

Sabtu, 22 November 2014

Cerpen | Catatan Alfiyah Bersampul Merah

Humaira Habibi. Nama yang indah, senang mengenalmu. Kau tahu, saat bulan lalu setelah kau memilihku untuk menjadi sahabatmu, perasaanku menjadi seperti ladang bunga di tengah musim semi. Kau membawaku ke kamarmu. Terdapat sebuah rak kayu yang tidak terlalu besar terisi penuh oleh buku-buku dan kitab berkertas kuning. Hingga akhirnya kau menempatkanku untuk berbaring diatas kasur tipis di samping tempatmu tidur.
***
“Humaira, cepat!!” teriakan seorang perempuan yang berdiri menunggumu di depan pintu menggema untuk yang kedua kalinya, menyuruhmu untuk bergegas.
“Iya, sebentar..” balasmu dengan suara yang mampu memekakan telingaku. Kemudian kau menarikku dengan tergesa-gesa hingga detik berikutnya kurasakan tubuhku berguncang karena kau berlari semakin cepat menuju kelas.

Senin, 18 Agustus 2014

Cerpen | Dia Semu Aku Merindu

Aku terpaku menatap pemandangan di luar. Kulihat seorang anak yang kira-kira berusia lima tahun tengah berlari dengan riang di bawah rintik hujan, melompat di setiap genangan air yang terdapat pada cekungan rerumputan. Aku bisa melihat betapa bahagianya anak itu.
“Kak Sinta, ayo sini! Kita hujan-hujanan. Asik, Kak!”
Seorang gadis yang mengenakan jas hujan dengan menenteng sebuah payung kecil menghampiri anak itu.
“Jangan hujan-hujanan, Risya. Nanti kamu sakit. Ayo kita masuk, nanti dicariin ibu.” Sang Gadis manggandeng tangan anak yang bernama Risya itu, membawanya masuk ke rumah mereka sambil memayunginya.
Hujan bertambah deras sedangkan aku sama sekali tidak berniat mengubah posisiku yang masih enggan untuk meninggalkan matahari yang semakin tenggelam di ufuk barat.
Keadaan halaman mulai gelap dan udara dingin terasa begitu menusuk meski hujan telah berhenti sekitar sepuluh menit yang lalu. Aku beranjak dari tempatku duduk, berjalan menuju dapur dengan niat mengambil secangkir cokelat hangat untuk sekedar menghangatkan tubuh.
Ketika melewati ruang keluarga, aku kembali terpaku menyaksikan anak tadi tengah asik menikmati cokelat hangat ditemani kakaknya yang sedang menonton acara televisi yang menayangkan kartun barbie berambut panjang, sementara seorang ibu terlihat tengah sibuk menyiapkan makan malam di meja makan.
“Ayah pulang,” seru seseorang dari arah pintu masuk.
Kedua anak itu serentak berhamburan menuju pintu, menghampiri seorang pria dengan setelan jas kantoran sambil menenteng sebuah tas. wajahnya menyiratkan kelelahan. Namun begitu, dia berusaha menyembunyikan rasa lelahnya dengan tersenyum dihadapan anak-anaknya. Ibu tadi juga ikut menyambut kedatangan sang suami dengan mengambil alih tas dan jasnya.
“Sebentar, ya. Ibu siapkan air hangatnya dulu untuk mandi ayah.” Lelaki itu mangangguk sambil tersenyum lalu menggandeng dua anaknya menuju ruang keluarga.
Tanpa sadar, mataku mulai memburam terhalangi oleh sesuatu yang menggenang di kelopak mataku. Aku tersenyum pahit ketika merasakan buliran air membasahi pipiku saat menyaksikan pemandangan yang begitu membuatku iri. Sepertinya lebih baik aku kembali ke kamar lalu tidur sebelum wajahku semakin basah oleh airmata.

Selasa, 17 Juni 2014

Sajak | Menggenggam Rindu



Bibirku masih saja bungkam
Sesekali terucap decak dan gumam
Memandangi mentari yang ‘kan terbenam
Mengenang kisah yang pernah tertanam

Dahulu dan sekarang berbeda
Yang dulu ada kini t’lah tiada
Begitu pula cerita yang tercipta
Benarkah kini telah terlupa?

Tubuhku terlampau kebas
Dan mata mulai memanas
Hingga jiwa dari raga terlepas
Kenangan tentangmu ‘kan terus membekas

Tubuh semakin gelisah
Dan wajahku mulai membasah
Meski kau lupakan semua kisah
Tapi cinta t’lah mengukir sejarah

April 2014

Sajak | Koruptor



Iblis berjas iblis berdasi
Bertingkah lugu nyatanya tak tahu malu
Laksana serigala berbulu domba
Nurani diutupi, harta haram terus digali
Ngakunya beragama ternyata topeng belaka
Berilmu tinggi tapi dipakai ‘tuk membodohi
Manusia bejat miskinkan bangsa
Tak mau peduli, keadilan bisa dibeli
Itulah iblis berjas dan iblis berdasi
Berpendidikan tapi tak punya iman
Uang dan jabatan dibangga-banggakan
Tak tahukah kelak hukum Tuhan ‘kan berjalan

April 2014

Selasa, 06 Mei 2014

Cerpen | Memang Jodoh



Mei 2014
Matahari sudah tergelincir sejak tadi tergantikan oleh sang bulan, jarum jam yang melingkar di tanganku pun telah menunjuk ke angka 7. Ingar bingar dari sebuah kota besar mulai terasa. Beberapa orang di sekitar yang tengah asik bersenda gurau dengan pasangannya masing-masing tidak pula menggoyahkanku untuk beranjak dari bangku yang tengah kutempati ini. Ya, beginilah aku sekarang,  duduk termangu di sebuah kursi yang berhadapan langsung dengan sebuah danau, menatap jauh ke arah depan seraya membiarkan anganku melayang mencoba memutar waktu, menelusuri kembali halaman demi halaman memoriku mengenai apa yang pernah terjadi tentang kami, aku dan dia.

Agustus 2009
Hari ini pertama kalinya aku mengenakan seragam putih-abu, itu menandakan aku sudah sah menjadi salah satu bagian –siswa– di sekolah kejuruan ini. Aku tak tahu apa yang kurasakan saat ini, apakah aku harus senang atau malah merasa sedih karena berada di jurusan yang seringkali dipandang remeh oleh orang-orang.
Meskipun sedikit terdengar aneh, tapi bukankah tidak ada salahnya jika seseorang mempunyai mimpi yang tidak masuk akal sekalipun. Bahkan seorang Edison yang dianggap memiliki keterbelakangan pun mampu mewujudkan impiannya yang seringkali ditertawakan oleh orang-orang.

Oktober 2009
Ini bulan ke dua aku mengikuti kegiatan Forum Remaja Islam yang merupakan salah satu ekstrakurikuler yang ada di sekolahku. Aku masuk ke forum ini karena ketertarikanku dalam mempelajari agama Islam, terlebih untuk menambah keimananku. Disamping itu, aku juga sengaja menyibukkan diri untuk mengalihkan kepenatan akibat cibiran orang-orang yang ditujukan kepadaku.
Biasanya aku selalu fokus memperhatikan ketika kakak senior menyampaikan materi, tetapi hari ini tidak seperti itu. Ketika sedang memperhatikan materi yang disampaikan, seorang lelaki yang tiba-tiba duduk di jajaran senior berhasil membuatku mengalihkan perhatian dari apa yang seharusnya aku perhatikan. Entah mengapa aku begitu tertarik pada lelaki tersebut. Siapa dia? Kenapa aku baru melihatnya? Bermacam pertanyaan muncul di pikiranku. Tanpa sadar aku merasakan ribuan kupu-kupu berterbangan di perutku, dan itu membuat pipiku terasa menghangat. Apakah ini namanya cinta pada pandangan pertama? Ah tidak mungkin, aku hanya merasa penasaran saja kepadanya. Tapi kenapa ini berbeda? Astaga apa yang terjadi padaku. Kenapa mataku seakan menolak perintah otak yang menyuruh untuk berhenti memperhatikan lelaki itu? Untungnya sebelum ketahuan melamun, aku berhasil memusatkan kembali perhatianku pada materi yang disampaikan meskipun separuh pikiranku masih betah pada objek yang membuatnya teralihkan tadi.
Setelah pertemuan forum berakhir Ratna –teman sekelasku– tiba-tiba menghadang langkahku kemudian menatapku dengan pandangan yang menelisik.

Sajak | Sekolah "Saat Ini"


Sekolah tempat terbaik untuk tumbuh
Guru, teladan utama yang patut ditiru dan digugu
Semua baik mulai dari logika, etika dan estetika
Sayangnya kini semua itu hanya bualan semata
Ilmu pengetahuan yang kami perlukan
Kini dimonopoli di pabrik pengetahuan

Sebagian dari guru, mereka munafik
Menyuruh berbuat baik tapi kesehariannya jauh dari definisi baik
Formalitas, itu hal biasa
Menyuruh menanam tapi hanya dengan benih yang tersedia
Selalu bergosip bukan tentang pelajaran
Mengajar dengan kekesalan sampai melampiaskan kemarahan

Pakaian seragam penghindar diskriminasi
Nyatanya sepatu dan gadget masih membatasi
Haruskan kuasai semua pelajaran karna penting ‘tuk masa depan
Nyatanya guru bahasa tak pahami hukum percepatan
Tidak ada pekerjaan yang butuh semua kemampuan
Seorang sastrawan tidak harus berkemampuan milik fisikawan

“Kalian angkatan terburuk sepanjang sekolah ini didirikan”

Sajak | Salahkah?


Aku Zahra si gadis jingga
Yang hidup di batas realita
Hingga Tuhan mendatangkannya
Sosok indah yang mempesona

Lewat tingkahnya yang menawan
Dia hadir di setiap bagian
Ku lontarkan banyak pujian
Hingga terselip sebuah ujian

Pria itu membawa cinta
Cinta buta yang menoreh luka
Bila cinta berujung duka
Indahnya cinta jadi ilusi semata

Aku bumi dan dia matahari
Terlampau jauh ‘tuk didekati
Meski perbedaan begitu membatasi
Namun salahkah rasa ini?


23 April 2014