Jumat, 15 September 2017

Artikel | Mari Beretika dalam Dunia Maya

Didukung oleh perkembangan teknologi komunikasi dan informasi lambat-laun menjadikan budaya dunia nyata mulai tergeser oleh budaya maya. Dalam beberapa kasus, nilai-nilai dan etika yang ada seperti sopan santun mulai dikesampingkan ketika seseorang melakukan aktifitas di dunia maya.
Etika erat kaitannya dengan kedewasaan. Namun pengguna internet di Indonesia sebagian besar adalah remaja dengan umur 15-19 tahun, di mana usia tersebut merupakan tahap menuju kedewasaan sehingga pemikirannya masih labil dan mudah terpengaruh, belum bisa membedakan benar-salah, dan belum dapat menentukan skala prioritas. Selain itu, karakter remaja dengan rasa ingin tahu yang besar, mudah menerima hal baru, ekspresif dan narsis, membuat mereka bebas melakukan apapun di dunia maya yang over informasi. Namun dampaknya jika berlebihan malah akan mendatangkan kerugian.
Hal tersebut merupakan salah satu faktor penyebab minimnya penggunaan etika dalam dunia maya. Contohnya saja banyak pengguna internet yang menjadikan dunia maya sebagai media untuk melampiaskan emosi.
Banyak anggapan bahwa apa yang dilakukan di dunia maya merupakan cerminan pribadi di dunia nyata. Tetapi tidak sedikit orang yang sifat dan karakternya berbeda antara ia di dunia nyata dengan ia ketika di dunia maya. Beberapa orang menggunakan identitas palsu di dunia maya. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa tetapi juga oleh anak-anak dan remaja sehingga menyulitkan pengawasan yang dilakukan oleh orang tua.
Tidak sedikit pengguna dunia maya yang merasa dirinya paling benar dan mengetahui segala hal serta tidak adanya batasan komunikasi disebabkan tidak adanya pertemuan secara langsung atau tidak diketahuinya latar belakang penguna dunia maya seperti tempat asal, usia, dan watak membuat orang yang beraktivitas di dunia maya merasa bebas bertindak semaunya. Padahal,

Artikel | Pendidikan di Indonesia; Apa yang Harus Dibenahi?

Dengan harapan mencerdaskan bangsa dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, sejak 2015 Indonesia menerapkan wajib belajar selama 12 tahun. Sudah banyak juga dikampanyekan tentang pentingnya pendidikan untuk membangun suatu bangsa. Namun nampaknya hal tersebut belum terpenuhi melihat realitas pendidikan yang ada saat ini.
Sepertinya masih banyak masalah pendidikan yang memang harus dibenahi. Mulai dari belum meratanya fasilitas pendidikan, kurikulum yang berubah-ubah, tenaga pendidik yang kurang memadai, sampai orang tua yang menuntut terlalu tinggi terhadap anaknya.
Mengenai permasalahan fasilitas pendidikan, di wilayah Indonesia bagian Timur masih dijupai kurangnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menunjang proses pendidikan. Contohnya saja buku-buku pelajaran yang masih minim, meja dan kursi yang sudah rapuh, jarak tempuh dari rumah ke sekolah yang jauh, serta bangunan sekolah yang tidak layak digunakan. Sementara di wilayah perkotaan dengan fasilitas yang memadai, banyak siswa yang malah menyepelekan proses pendidikan.
Terkait dengan kurikulum, untuk mengikuti perkembangan zaman, mau tidak mau segala aspek kehidupan akan mengalami perubahan. Sama halnya dalam bidang pendidikan. Mata pelajaran yang diajarkan serta metode pembelajaran pun harus dinamis. Namun jika kurikulum terlalu sering diubah,

Artikel | Pembentukan Karakter Sejak Dini

Pembentukan karakter adalah salah satu hal yang dianggap penting dalam membangun suatu bangsa. Sayangnya proses pendidikan di sekolah masih banyak yang lebih mementingkan aspek kognitif dibandingkan membentuk karakter anak didik  tentang bagaimana beretika yang baik. Bahkan tidak sedikit dijumpai guru di sekolah yang hanya asal mengajar karena tuntutan profesinya.
Pembentukan karakter sebaiknya dilakukan sejak dini agar kelak anak-anak memiliki karakter yang sesuai dengan karakter bangsa, yaitu karakter bangsa yang memiliki integritas, berkeadilan, bermoral, berketuhanan, dan memiliki nilai-nilai positif lainnya. Sikap saling menghormati dan saling menghargai juga merupakan karakter yang harus diterapkan, terlebih karena bangsa Indonesia sendiri merupakan bangsa yang memiliki banyak keragaman mulai dari segi budaya, adat, dan keyakinan.

Senin, 20 Juni 2016

Prosa Liris | Kepada Sahabat



Hai sahabat, yang selalu tertangkap dalam lensa mataku adalah kegembiraan.
Telah kurekam tingkah polahmu lewat tawamu yang renyah, celotehmu yang riuh, matamu yang selalu berbinar dan pelangi yang terbentang pada tiap hadirmu hingga siapapun disampingmu menikmati berwarnanya hari.
Aku bukan jenius yang pandai mengkalkulasikan banyaknya masa yang kita lewati bersama karena kau juga pasti sadari banyaknya digit angka tak cukup mendekripsikan saat-saat yang kita jalani.
Aku sadar akan percik sedih yang kau wujudkan dalam rupa candaan dibalik topeng senyummu. Sayangnya kepekaanku yang selalu datang terlambat membuatmu menelan pil pahit itu sendirian.

Luruh



Seperti sebatang kayu rapuh
Dalam hening senja berselimut kabut
Tak lagi terdengar  gemerisik angin
Oh, Keheningan yang sungguh menakutkan
Sekalipun senja akan segera berlalu
Luruh pula segala asa terhempas angin malam
Terus ku terpaku oleh harapan semu
Hanya bisa menatap ketidakmengertian
Banyak kutulis kesedihanku
Hingga benar-benar terasa kesedihan yang indah
Begitu nikmatnya antara luka berbalut air mata
Hanya kepada-Mu ingin ku meminta
Tolong angkat segala rasa sesak
Agar kembali senyum terrajut...

Rabu, 18 Mei 2016

Warna dan Esensi Kebenaran

Kupikir hidup tidak seperti dualisme papan catur yang hanya ada hitam dan putih.
Barangkali ada jingga yang mengintip di sudut senja;
ada biru yang terhampar di lepas samudera;
ada merah dalam asa yang membara;
ada hijau yang segar ditengah bangunan-bangunan berpagar;
ada kuning cahaya matahari yang tak pernah ingkar janji;
ada merah muda pada hati yang tengah berbunga;
ada ungu yang memisahkan gelap dan terang;
ada abu-abu yang
masih tak tahu tempatnya berada.
Jadi, maksudku,
kupikir manusia tidak benar-benar tahu apa yang benar-benar benar,
dan tidak benar-benar tahu apa yang benar-benar salah.
Kupikir aku salah satu manusia itu.
Barangkali yang kubicarakan adalah benar, atau yang kauketahui itu tidak benar.
Tapi bisa jadi yang kauketahui adalah benar, atau yang kubicarakan ini tidak benar.
Jadi, maksudnya, apa esensi benar atau salah?
Entahlah, kupikir aku sedang belajar mengeja warna...

Untitle





Tempatku berada begitu temaram.
Terbata-bata layaknya si buta yang mengeja lentera.
Aku masih terbata; mengeja tentang kewajiban, tentang hak, tentang asas, tentang acuan yang kadang berstandar ganda;
Tentang makna.
Adakah harapan dalam jelaga yang menikam?
Berharap datang selaksa cahaya.
Oh, bagaimana cara menafsirkannya?

Agent of Change dan Sampah yang Terlantar



Agent of Change,” katanya
Tapi saat nongkron, dengan santai menghisap lintingan tembakau
Tak mau peduli orang lain punya hak hirup udara bersih
Setelahnya, puntung rokok dilempar, diinjak, ditinggal pergi
Oh, malangnya...

“Ingin wujudkan revolusi,” katanya
Bungkus permen saja masih dibuang di mana-mana
Ketika ditegur, tak ada tong sampah yang dekat, alasannya
Padahal kurang dari tujuh meter ada tong bertuliskan organik-anorganik
Huh, dasar pemalas! Revolusi dulu, lah, mental kalian!

“Kami insan kademisi,” katanya
Tapi saat

Prosa Liris | Surat yang Tak Pernah Terhantar

Frase yang kutumpuk dalam pikiran tidak juga menata dirinya sendiri menjadi sebuah kalimat, paragraf, kemudian menjadi surat yang kutulis untukmu.

Aku menemukanmu masih saja menyapa di sudut yang paling dalam. Kau tahu, otakku seakan disalahkan sebab ia dituduh mengalami distorsi, tapi menurutku ini bukan salahnya. Ini tentang hati!

Manusiawi, kan, jika bibirku bergumam sebagai manusia dan menyebutmu? Syukurlah aku masih bersikap waras. Kau juga sama warasnya, kan? Seharusnya kau tetap memanusiakan aku seperti manusia, bukannya angin lalu.

Selasa, 16 Februari 2016

Tentangku yang (Tidak) Perlu Diketahui



Ini mungkin terdengar aneh sebab setelah tiga tahun membuat blog dengan postingan pertama tahun 2013, baru sekarang aku mau memperkenalkan diri. Sebenarnya aku tidak begitu suka untuk mempublikasikan mengenai diriku pribadi. Kupikir, orang-orang bisa mengenaliku (secara tidak langsung) lewat apa yang kutulis. 

“Jika seperti itu, mengapa seorang Fitria Wulandari lantas melakukan hal yang tidak disukainya seperti saat ini?”

Alasan pertama, karena sebuah keharusan. Seorang dosen dari salah satu mata kuliah yang kuikuti meminta kami –mahasiswanya untuk membuat blog dan menuliskan tentang dirinya masing-masing di dalamnya. Singkatnya, aku melakukan ini karena tugas.

“Jadi kamu terpaksa, dong, saat menulis ini.”

Hahaha... bukankah dalam hidup, terkadang ada hal yang harus kamu lakukan meskipun kamu tidak menginginkannya? Itulah yang kunamakan kewajiban.
Alasan kedua, setelah kupikir-pikir, ternyata tidak ada salahnya memperkenalkan diriku pada orang-orang. Terlalu naif jika berpikiran aku tidak menginginkan popularitas. Pada dasarnya, setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan penghargaan (esteem needs) dan aktualisasi diri (self actualization needs) seperti dalam konsep kebutuhan dasar manusia yang dikemukakan Abraham Maslow. Dan kupikir, lewat tulisan ini, hak-ku akan kebutuhan tersebut bisa terpenuhi.

Alasan ketiga?

Dari Mereka, Aku Belajar



Mereka mendewasa dengan sendirinya
Tanpa belaian di kepala
Tanpa sapaan sayang
Tanpa manjaan
Mereka mendewasa
Bahkan dengan bentakan
Bahkan dengan pukulan
Bahkan dengan kebebasan
Mereka mendewasa
Dari petualangan
Dari keingintahuan
Dari ke-ngeyel-an
Mereka mendewasa
Hey, kamu... tahu apa?!
Mereka mendewasa dengan caranya
Dididik oleh perih
Dilepas oleh cinta

Kutoarjo, 6 Januari 2016

Pendidikan Masa Tamu



Di bawah langit tanpa atap
Di atas tanah basah tanpa alas
Belajar jadi pribadi yang peka
Di bawah hujan deras
Di dalam tenda yang lembab
Hampir saja goyah tekad
Tapi demi tujuan
Harus tabah meski berat
Manghadapi segala rintang
Di hadapan api unggun
Dalam riuh sorak sorai
Harapan kembali membara
Dari kami yang baru bersua
Dari kami yang belum lama berjumpa
Dari kami yang baru menjadi keluarga
Rela menolong sesama
Bebas-bertanggung jawab
Mengharap ridho Sang Pencipta

Kiarapayung, 28 November 2015

Prosa Liris | Memori tentang Alun-Alun Kutoarjo



Diantara malam yang bertabur bintang. Hitamnya menjadi saksi akan kenangan yang tak ingin terkikis waktu.
Dua anak kecil berkejaran mengitari beringin tua di tengah hamparan rumput hijau. Teringat kembali akan momen tertentu dimana kita merengek untuk bisa datang ke pasar malam. Atau saat harus menahan kantuk demi sebuah pertunjukan pesta kembang api yang ikut mewarnai hitamnya malam tahun baru. Juga ketika singgah di pendopo untuk sekadar mengusir letih.
Waktu...
Waktu merupakan rangkaian perjalanan yang dinamis tanpa dapat di tahan satu detik pun. Seiring waktu berjalan, semua mulai berubah. Dua anak kecil tumbuh jadi remaja yang jarang bersua.
Pernah suatu senja,

Prosa Liris | Hai, yang Kurindu

Hai sahabat, yang selalu tertangkap dalam lensa mataku adalah kegembiraan.
Telah kurekam tingkah polahmu lewat tawamu yang renyah, aksaramu yang riuh, matamu yang selalu berbinar dan pelangi yang kau bentangkan pada tiap hadirmu hingga siapapun disampingmu bisa nikmati berwarnanya hari.
Aku bukan jenius yang pandai mengkalkulasikan banyaknya masa yang kita lewati bersama karena kau juga pasti sadari banyaknya digit angka tak cukup mendekripsikan menit saat kita jalani hari-hari.
Aku sadar akan

Selasa, 07 April 2015

Fiksi Mini | Plafon Usang Berdebu

Anak-anak itu tampak saling berbisik. Sesekali menunduk mengoreskan arang pensil pada kertas di hadapannya, kemudian kembali berbisik-bisik.

Seorang anak yang duduk di belakang bahkan berani melongokkan kepala ke samping, ada pula yang sampai bertukar kertas.

Di sudut terdepan, wanita paruh baya terlihat santai dengan lembaran-lembaran kertas yang dibacanya. Ia tak begitu acuh dengan keadaan kelas yang tidak kondusif.